Momen kecil seringkali luput dari pandangan. Namun siapa sangka, di balik itu semua terdapat pesona luar biasa. Teknik fotografi makro menjadi sarana untuk menikmati keindahan dunia kecil. Umumnya fotografi makro digunakan untuk menangkap obyek berukuran kecil, seperti semut, lalat, tawon, percikan air, hingga embun.
Teguh Santosa, penggemar fotografi makro berujar, “Seorang fotografer makro, seolah-olah ingin mendapatkan barang besar”. Teguh dihadirkan sebagai pembicara dalam workshop Fotografi Makro, yang diadakan oleh komunitas Macro World Mania dalam rangkaian acara “Focus Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2012”, Jakarta Convention Center, pada 2 Maret.
Teguh menampilkan karya-karya foto makro yang dipotret sejak lama hingga karya-karya baru. Tetes embun menjadi objek favoritnya. “Embun adalah perkenalan pertama saya dengan makro. Saat itu ketertarikan dengan makro sudah ada. Tapi saya cuma punya lensa kit dan kamera Canon 1000 D,” jelas Teguh.
Lalu Teguh pun teringat cerita seorang teman, foto makro bisa dilakukan dengan teknik sederhana. Dengan membalik lensa kit, ia pun memotret embun di atas rumput. Walaupun fokus foto belum sempurna, tapi ada keindahan luar biasa. Setelah itu, Teguh pun kian tergila-gila memotret embun.
Selain foto embun, juga ada beberapa foto binatang kecil; semut dan mantis. Tidak perlu jauh-jauh mencari momen untuk memotret, di sekitar rumah pun bisa jadi lokasi hunting foto. Beberapa karya foto makro dibidik di atas pagar rumah yang basah usai hujan.
Sekilas objeknya, semut merangkak naik ke atas tetesan air. Ternyata bukan tetesan air, melainkan kelereng transparan. Lain lagi saat Teguh menangkap momen mantis yang mengembangkan sayap. Teguh berinisiatif memancing mantis dengan ranting. “Secara komposisi, foto ini kurang bagus. Tapi saya biarkan saja, karena momennya tidak bisa diulang,” kilahnya.
Teguh membagi tips dan trik menarik memotret embun dengan teknik makro. Gunakan aperture antara 7.1 -13, kemudian shutter speed bisa di bawah 1/100, untuk mendapatkan refleksi dan dimensi embun sekaligus. Lakukan tanpa tripod, karena kamera sudah tersangga tangan yang bertumpu di tanah. Untuk mendapatkan gambar yang lebih cemerlang, gunakan internal flash. Agar lebih soft, biasanya diberi diffuser, misalnya dengan tissue putih. Satu tips yang paling penting, take by heart, agar keindahannya benar-benar menancap ke hati. Selamat mencoba!
Oleh Degina Juvita



12:32 PM
totok bligo
Posted in:
0 comments:
Post a Comment