.

.

Friday, March 16, 2012

Balik Lensa Makro

Momen kecil seringkali luput dari pandangan. Namun siapa sangka, di balik itu semua terdapat pesona luar biasa. Teknik fotografi makro menjadi sarana untuk menikmati keindahan dunia kecil. Umumnya fotografi makro digunakan untuk menangkap obyek berukuran kecil, seperti semut, lalat, tawon, percikan air, hingga embun.
 
Teguh Santosa, penggemar fotografi makro berujar, “Seorang fotografer makro, seolah-olah ingin mendapatkan barang besar”. Teguh dihadirkan sebagai pembicara dalam workshop Fotografi Makro, yang diadakan oleh komunitas Macro World Mania dalam rangkaian acara “Focus Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2012”, Jakarta Convention Center, pada 2 Maret.
 
Teguh menampilkan karya-karya foto makro yang dipotret sejak lama hingga karya-karya baru. Tetes embun menjadi objek favoritnya. “Embun adalah perkenalan pertama saya dengan makro. Saat itu ketertarikan dengan makro sudah ada. Tapi saya cuma punya lensa kit dan kamera Canon 1000 D,” jelas Teguh.
 
Lalu Teguh pun teringat cerita seorang teman, foto makro bisa dilakukan dengan teknik sederhana. Dengan membalik lensa kit, ia pun memotret embun di atas rumput. Walaupun fokus foto belum sempurna, tapi ada keindahan luar biasa. Setelah itu, Teguh pun kian tergila-gila memotret embun. 
 
Selain foto embun, juga ada beberapa foto binatang kecil; semut dan mantis. Tidak perlu jauh-jauh mencari momen untuk memotret, di sekitar rumah pun bisa jadi lokasi hunting foto. Beberapa karya foto makro dibidik di atas pagar rumah yang basah usai hujan. 
 
Sekilas objeknya, semut merangkak naik ke atas tetesan air. Ternyata bukan tetesan air, melainkan kelereng transparan. Lain lagi saat Teguh menangkap momen mantis yang mengembangkan sayap. Teguh berinisiatif memancing mantis dengan ranting. “Secara komposisi, foto ini kurang bagus. Tapi saya biarkan saja, karena momennya tidak bisa diulang,” kilahnya.
 
Teguh membagi tips dan trik menarik memotret embun dengan teknik makro. Gunakan aperture antara 7.1 -13, kemudian shutter speed bisa di bawah 1/100, untuk mendapatkan refleksi dan dimensi embun sekaligus. Lakukan tanpa tripod, karena kamera sudah tersangga tangan yang bertumpu di tanah. Untuk mendapatkan gambar yang lebih cemerlang, gunakan internal flash. Agar lebih soft, biasanya diberi diffuser, misalnya dengan tissue putih. Satu tips yang paling penting, take by heart, agar keindahannya benar-benar menancap ke hati. Selamat mencoba!
 
Oleh Degina Juvita

Teknik Foto Makro

Sekarang ini fotografi menjadi hoby yang sudah menghipnotis banyak manusia dibumi ini, terbukti dengan banyaknya komunitas-komunitas dan karya-karya yang fantastik yag di sulap oleh para fotografer menjadi karya yang luar biasa. Salah satunya adalah foto Makro, Foto Makro mengambil objek yang keci seperti binatang kecil atau obyek kecil lainnya untuk mengeksplorasi detil dan tektur yang tidak nampang jelas secara kasat mata.

Dalam kenyataannya peralatan yang dibutuhkan sangatlah mahal untuk kalangan pemula, disini saya akan berbagi mengenai cara sederhana untuk  meenghasilkan foto makro dengan menggunakan kamera DSLR.

Alat yang diperlukan sebelum berburu :

1. Kamera

DSLR adalah singkatan dari Digital Single-Lens Reflex. Kamera DSLR artinya kamera digital yang menggunakan refreksi lensa tunggal. Guna mengintip objek yang akan difoto.

2.Macro Extension Tube.

Extension Tube merupakan alat tambahan yang murah & efektif untuk foto macro. Prinsip dasar alat ini adalah menjauhkan jarak lensa dari kamera,Alat ini dapat meningkatkan pembesaran tergantung dari berapa kali pembesaran dan berapa banyak alat ini terpasang pada sebuah kamera.

3. Built Body Flash

Yakni membangun flash untuk makro, Mungkin alat ini yg paling terjangkau dan sangat Variatif. Biasanya menggunakan kardus bekas pasta gigi dan didalamnya dilapisi oleh alumunium foil dan diujung depannya diberi diffuser. gunaya  Para peminat menggunakan berbagai macam alat yg ada disekitar kita mulai dari kardus bekas odol sampai botol bekas minuman susu anak2, yg didalamnya dilapisi alumunium foil agar cahaya yang dihasilkan baik, agar cahaya tepat sasaran,dan di beri diffuser didepanya.

4. Setting Kamera

a. Ubah Picture Style.
1.Canon
- Sharpness     : 5-6
- Contrast     : +1
- Saturation     : +2
- Color Tone     : 0
2.Nikon
Disarankan menggunakan Standar Picture Style TETAPI menambahkan saturasi nya antara +2 atau +3.
b. Yang lainnya.
-Spot Metcring
-Day Light White Balance
-Color Space    : sRGB
-Quality : RAW atau JPEG
-One shot dengan mode continous shooting
-Manual focus di lensa
-Gunakan AV atau TV mode, tergantung dari aktivitas objek.
Terakhir selamat mencoba
Salam Jepret

Teknik Foto macro menggunakan kamera Dslr.

Pembagian  fotografi makro  menggunakan kamera SLR/DSLR
Umum:
  • Menggunakan lensa khusus makro atau lensa  zoom yang  bertanda “bunga tulip”(bisa untuk foto makro )
  • Menggunakan  lensa tele atau lensa normal plus tele converter..
Untuk lebih jelasnya maka lensa2 dibawah ini adalah yang biasa di pergunakan untuk fotografi makro:
#     Lensa Makro Normal : 50mm
#     Lensa Makro Mid tele : 90-105mm
#     Lensa Makro Tele : 150-180mm
Ekstrem:
  • Memasang lensa tambahan lagi dengan posisi terbalik didepan lensa dengan tambahan sebuah adapter khusus.
  • Menggunakan filter tambahan seperti filter close-up didepan lensa.
  • Memakai filter yang seperti sifatnya  sebuah kaca pembesar/Lup , Raynox,
  • Atau bahkan ada juga yang menambahkan sebuah kaca pembesar yang di lekatkan didepan lensa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemotretan makro adalah:
  1. Lighting (sumber cahaya)
Dibagi dalam 2 :
# Natural lighting/cahaya alam/Matahari/available light
# Artifisial lighting (Flash dan lampu studio)
  1. Depth Of Field (DoF)
DOF (kedalaman fokus) dalam fotografi makro, ruang ketajaman suatu foto akan indah bisa dilihat jikalau sesuai dengan object yang akan kita abadikan.
Karena semakin dekat jarak antara titik focus kamera dengan object maka akan semakin tipis/sempit DoFnya, ini dapat kita control dengan mengatur bukaan diafraga dari lensa nya. Tentunya kita tak akan menghasilkan foto kupu2 yang hanya tajam dibagian mata saja sementara keindahan dari warna sayapnya menjadi blur.
Jadi jikalau kita ingin mendapatkan DoF yang lebih lebar, tetapi jarak antara lensa dengan objectnya ingin lebih dekat, maka bukaan difragma haruslah di set semakin kecil nilainya (biasanya antara f/5.6 bisa sampai f/16).
Faktor yang mempengaruhi DoF adalah :
    • Panjang Lensa :makin panjang lensa makin tipis DOF yang akan dihasilkan
    • Jarak focus : Makin dekat jarak focus suatu object dari lensa, makin tipis DoF yang akan dihasilkan.
    • Diafragma: Makin besar bukaan lensa (f/2.8) makin tipis DoF yang akan dihasilkan.
Jadi kesimpulannya, DoF yang dihasilkan adalah kombinasi dari ke 3 variabel tsb.
Pada fotografi makro,  DoF  yang akan dihasilkan relative sangatlah tipis (kebalikan dari pemotretan landscape).
  1. Fokus
# Auto fokus
# Manual fokus
Focusing pada fotografi makro tidaklah sulit apabila kita lakukan pada benda mati/diam. Tapi akan sangatlah sulit jikalau kita melakukannya pada benda yang bergerak seperti serangga yang selalu beterbangan.
Walaupun kini semua lensa sudah dilengkapi dengan fitur auto focus, tapi tidaklah semuanya memiliki kecepatan seperti yang kita harapkan dalam mengikuti object yang bergerak tersebut, jadi manual focusing sangatlah dibutuhkan dalam hal ini.
Setelah cukup terbiasa mendapatkan fokuc yang baik, barulah mencoba mengatur komposisi yang bagus.
  1. Komposisi
Membuat komposisi agar sesuai dengan kaidah “Rule Of Third” sangatlah sulit, karena object yang akan kita foto selalu bergerak dan sangatlah kecil, kadangkala seluruh object tersebut mengisi frame kamera sepenuhnya.
Hanya dengan sering berlatih dan berlatihlah maka akan didapat komposisi yang bagus dan kreatifitas seorang fotografer sangatlah berperan sekali dalam menentukan komposisi antara foreground, background yang mendukung object (POI-Point of Interest) dengan DOF yang pas.
  1. Lokasi
# Indoor
Didalam ruangan biasanya menggunakan lampu tambahan seperti flash, ringflash, atau bahkan lampu studio.
# Outdoor
Diluar ruangan kita selalu memanfaatkan cahaya matahari sebagai available lightingnya. Biasanya saat yang tepat untuk memotret makro adalah di pagi hari sampai jam 9 pagi, atau di sore hari jam 3-5 sore.
  1. Tripod atau handheld
Disaat penggunaan flash tidak memungkinkan (karena serangga yang akan kita foto akan lari menjauh) maka untuk mendapatkan eksposure yang baik antara bukaan diafragma yang kecil (agar DOFnya lebih lebar) dan shutter speed sementara shutter speed yang kita dapat sangat rendah rendah, maka penggunaan tripod/monopod sangatlah di butuhkan agar hasil fotonya tidak menjadi blur.
Untuk jelasnya apabila shutter speed kita dibawah/lebih rendah/kecil dari 1/FL(Focal length) lensa yang dipergunakan maka sebaiknya pergunakanlah tripod/monopod. Contohnya kita memakai lensa yang 100mm, maka apabila shutter speed yang didapat di kamera 1/60 sebaiknya memakai tripod/monopod agar /object moment yang akan kita abadikan tidak menjadi blur.
Penggunaan tripod sangat membantu dalam pengambilan foto makro terutama disaat cuaca/matahari  tidak sedang terik .
Monopod lebih flexible terutama dalam pengambilan foto makro serangga.
  1. Mood dan kesabaran
Memotet adalah seperti halnya kita melukis sebuah kanvas putih, yang akan di lukis dengan menggunakan cahaya. Mood seorang fotografer akan tertuang dikanvas elektronik tersebut  saat mengabadikannya.
Makro fotografi sangatlah menuntut kesabaran yang sangat tinggi dalam memotret sebuah bunga mawar apalagi seekor kupu2/lebah yang sedang sibuk menghisap madu di bunga.
Ingatlah, focus, eksposure dan komposisi dari object yang akan kita lukis di kamera apakah sudah seperti yang akan kita abadikan sesuai dengan mood nya.
  1. Moment dan keberuntungan
Moment tidaklah sesulit seperti yang kita bayangkan, kita bisa mempelajari waktu, kebiasaan  dan tempat dari setiap serangga keluar (pada umumnya pagi). Atau saat yang tepat/terbaik kapan sebuah bunga mawar akan mekar.
Kadang kala factor keberuntungan lah yang mempertemukan fotografer dengan objectnya.
Tapi janganlah lupa, jikalau kita tidak mendapatkan object baik dan menarik lantas tidak mau berusaha mengulanginya esok harinya.
Karena kunci dari fotografi makro adalah teerus berlatih dan terus berusaha semaksimal mungkin
Beberapa tips & trik makro fotografi serangga dan bunga.
# Pelajari /baca wajah daripada object:
Pada saat memotret makro serangga, buatlah foto saat dia sedang berpose, tunggulah momen saat mata serangga tsb terpaku ke lensa.
Bila memotret bunga, perhatikan dan carilah  sisi terbaik dari penampilan bunga tsb. Apakah harus mengambil angle secara keseluruhan, atau hanya diperlukan bagian kecil seperti putik atau benang sarinya.
Bereksperimenlah dengan berbagai arah dan anglenya.
# Background yang bersih:
Usahakan semaksimalnya BG/background  itu bersih/simple yang mendukung POInya. Kalaupun ingin mendapatkan BG hitam (warna lain) bisa disiasati dengan menggunakan kain berwarna sebagai BGnya.
# Hindari Angin:
Memotret makro pada saat angin bertiup adalah hal yang sia2, karena kita akan mendapatkan hasil yang blur, bisa juga disiasati dengan mengatur shutter speed yang cepat, tapi sebisa mungkin hindarilah memotret makro disaat angin sedang bertiup sehingga akan membuat goyangan pada objectnya.
#     Sabar menunggu momen yang tepat:
Pada saat berburu/hunting makro khususnya serangga, usahakan berdiam diri sehingga segala tidak menarik perhatian serangga tsb.
Apabila kita akan mendekati object, usahakan agar gerakan kita tidak membuat serangga tsb melarikan diri meninggalkan kita.
Dan apabila memotret  serangga yang menempel pada bunga, cari posisi yang tepat pada saat dia sedang menghisap madu atau pada saat dia keluar dari bunga adalah moment yang sangat bagus untuk diabadikan.
#     Tahan napas saat menekan shutter kamera.
Membuat posisi spt segitiga antara lengan dan siku yang ditempel kedada kita akan memperkokoh pegangan kamera, ditambah dengan menahan napas sesaat pada waktu menekan shutter kamera akan mengurangi kemungkinan kamera shake dan bisa menghindari hasil foto yang blur/shake.
#     Tambahan cahaya:
Walaupun cahaya tambahan seperti flash adalah tidak dianjurkan, tapi jika dengan menggunakan diffuser atau peredam cahaya pada flash akan membuat halus hasil fotonya dan tidak akan terlau keras kontras yang dihasilkan pada objectnya.
Hindari direct flash ,atau tambahkan difusser pada flash, atau  gunakan tekhnik bouncing untuk mendapatkan dimensi dari object .

Teknik Fotografi Macro

Fotografi Makro, hmm.. Semakin hari semakin banyak orang yang semakin serius menekuninya dan tentunya hal ini memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan fotografi makro itu sendiri.

Fotografi makro sama saja dengan fotografi biasa, cuma perbedaanya terletak pada objek yang difoto. Namanya saja makro, jelaslah objek yang difoto itu wujudnya kecil-kecil. Mari kita perhatikan hal-hal penting apa yang harus kita perhatikan untuk menghasilkan foto-foto makro yang berkualitas.

1. Kamera dan Lensa
Kamera dan Lensa tentunya kita harus miliki, hal ini tidak perlu saya bahas lebih lanjut, namun keberadaan Lensa yang sangat penting dalam fotografi Makro.
Perangkat yang kita miliki harus memenuhi persyaratan fotografi makro.


2. Ketajaman

Hal ini sangat krusial dalam Fotografi Makro karena kita berhadapan dengan objek yang kecil dan sangat detil dengan kata lain, ketajaman adalah syarat mutlak dalam fotografi Makro. Musuh besarnya adalah guncangan. Percuma saja kita mengatur settingan yang tepat dikamera tapi pada saat ‘action’ terjadi guncangan..

3. Lighting (Pencahayaan)
Sumber pencahayaan yang sangat baik adalah sinar matahari, terutama pada waktu pagi hari. Tambahan yellow tone pada sinar matahari pagi semakin menyempurnakan tampilan objek yang akan kita jepret nantinya plus penyebaran sinar yang merata dan lembut yang dihasilkan oleh sinar matahari pagi.

Namun tentu saja, kita punya waktu satu harian untuk menghasilkan karya fotografi makro. Beberapa alat bantu pencahayaan akan membantu kita menghasilkan foto-foto makro yang luar biasa, antara lain :
i. Ring Flash

ii. Twin Light Flash

iii. Diffuser pada External Flash

iv. Internal Flash with Snoot & Diffuser


4. Komposisi
Sekalipun semua peralatan tersedia, pada akhirnya skill si fotografer yang diperlukan untuk menganalisa keadaan object dan sekelilingnya untuk akhirnya menentukan settingan yang pas.
Ketika kita hendak hunting object outdoor, kita harus ingat bahwa kondisi yang terjadi sangat bervariatif untuk itu kita harus siap dengan segala kemungkinan.

5. D.O.F (Depth Of Field)

Background dedaunan yang ramai akan mengganggu foto belalang yang ingin kita jepret, akan lebih cantik jika foto belalang terlihat dominan dan tajam sementara backgroundnya blurr. Disinilah settingan DOF harus tepat.

6. Fokus
Object apa yang kita akan tuju dan bagian mana yang menjadi titik fokus kita, sekalipun kita mendapat bantuan autofocus, kita harus bisa menentukan bagian apa yang akan menjadi titik fokus kita.

Teknis Fotografi & Fungsinya

Fotografi bukan segalanya tentang kamera. Dikatakan bahwa fotografi adalah seni bermain dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya, maka mustahil fotografi itu ada. Menghasilkan sebuah gambar yang bagus, harus memiliki visi yang kuat dalam hal ‘melihat’. Memperhatikan cahaya, komposisi dan momen adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam membuat foto yang dapat dikategorikan ‘bagus’.

Namun, sepertinya mustahil dapat menghasilkan foto seperti itu jika tidak mengenal dan memahami dari masing-masing teknis fotografi dasar. Fotografi memang bukan segalanya tentang kamera, namun kamera adalah alat untuk menyalurkan visi kita itu. Maka, sekiranya perlu mengenal dan memahami bagaimana kamera bekerja.

Tugas utama dari kamera adalah mengatur intensitas cahaya yang masuk dan pada akhirnya mengenai film/sensor (selanjutnya saya sebut medium). Apabila, kamera mengizinkan terlalu banyak cahaya yang masuk maka medium akan terbakar (overexposed). Dan sebaliknya. Bagaimana agar cahaya yang masuk itu tidak berlebih dan tidak kurang, atau dengan kata lain ‘pas’. Berikut saya jabarkan satu-satu.

Aperture
Atau yang sering juga disebut dengan difragma atau bukaan lensa adalah berfungsi untuk mengatur seberapa besar lensa akan terbuka. Fungsi ini lebih tepatnya terletak pada lensa. Logikanya, semakin besar bukaannya, maka akan semakin banyak cahaya yang akan masuk. Seperti sebuah kran air. Semakin besar kita buka keran tersebut maka akan semakin banyak air yang akan keluar.

Penulisan Aperture yang benar adalah f/x. Sehingga apabila dikatakan nilai Aperture-nya adalah 5.6, maka penulisan yang benar adalah f/5.6. Jadi jangan bingung apabila ada yang bilang bahwa bukaan lensa 2.8 lebih besar dari bukaan lensa 5.6. Karena kalau secara penulisan matematisnya memang benar khan? (f/2.8>f/5.6) Tapi kebanyakan kita malas untuk bilang f/2.8 atau f/5.6, karena kita orangnya simpel sih…

Efek Samping dari Aperture
Seperti obat batuk yang memiliki efek samping, begitu juga dengan aperture. Efek sampingnya adalah semakin besar bukaan lensa, maka akan semakin kecil daerah fokusnya. Dan sebaliknya. Daerah fokus inilah yang biasa dikenal dengan DOF (Depth of Field).

Shutter Speed
Atau yang biasa disebut juga dengan speed atau kecepatan rana bertugas untuk mengatur berapa lama mirror terbuka lalu menutup kembali untuk membatasi berapa banyak cahaya yang akan masuk. Seperti teori keran, apabila kita membuka keran terlalu lama, maka wadah penampung air tadi akan kelebihan sehingga akan meleber keluar. Kalau dalam kasus fotografi, medium akan terbakar.

Penulisan shutter speed yang benar adalah 1/x. Sehingga apabila dikatakan bahwa sebuah foto menggunkanan speed 60, maka penulisannya yang benar adalah 1/60 detik. Jadi jangan bingung kalau dikatakan bahwa speed 60 lebih cepat dibandingkan 30. karena secara penulisan matematis memang begitu khan?

Efek Samping dari Shutter Speed
Seperti berpacaran yang memiliki efek samping, seperti sulit melirik wanita/pria lain, begitu juga dengan shutter speed. Semakin cepat shutter speed, maka akan gambar akan semakin terlihat diam (freeze). Dan sebaliknya, apabila speed terlalu lamban gambar akan terlihat blur dikarenakan gerakan yang terlalu cepat, sehingga objek terlihat bergerak sangat cepat.


ISO atau ASA
Adalah tingkat sensitifitas medium dalam menerima cahaya. Semakin tinggi nilainya, maka akan semakin tingkat sensitifitasnya. Artinya, apabila kita merubah nilai ISO atau ASA ini menjadi lebih tinggi, sedangkan aperture dan speednya tidak diubah, maka medium akan menerima cahaya lebih banyak. Dan sebaliknya.

Efek Samping ISO atau ASA
ISO adalah tingkat sensitifitas sensor (medium), sedangkan ASA adalah tingkat sensitifitas film (medium), jadi perbedaannya hanya dimediumnya saja. Tapi logikanya sama. Kecuali efek sampingnya. Dimana apabila menggunakan film ASA tinggi, maka gambar akan terlihat grainy (berbentuk titik kecil namun banyak). Sedangkan penggunaan ISO tinggi akan menghasilkan noise (seperti bentuk cacing namun banyak). Sedikit aja udah geli apalagi banyak =)

Pertimbangan Sebelum Membeli Kamera DSLR

Di era modern saat ini, dunia fotografi bukanlah hal yang asing lagi bagi setiap orang. Dengan mudahnya setiap orang dapat mengabadikan sebuah moment dengan kamera Hp, Poket, DSLR, dll. Ketertarikan akan dunia fotografi akan mempengaruhi juga keinginan kita untuk mengabadikan moment tersebut dengan kamera yang bagus dan beralih ke tingkatan fotografi yang lebih profesional. Banyaknya kamera SLR (Single Lens Reflex) di pasaran seringkali membuat calon konsumen bingung untuk memutuskan pilihan. Dengan label harga yang berbeda, konsumen harus mengetahui apa sebenarnya yang ia butuhkan dan apa yang akan ia lakukan dengan kamera tersebut.
Untuk mempunyai kamera DSLR tidaklah murah. Kita sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seberapa besar uang kita.

Jika sekiranya konsumen sering mengambil gambar dalam kondisi low light misalnya, maka ia harus mencari kamera dengan ISO tinggi dan memiliki in-body image stabilization. Akan tetapi jika konsumen akan banyak memakai kamera di dalam studio, portrait atau macro, maka ia harus memprioritaskan adanya fitur 'live view'.

Sejumlah pertanyaan juga sebaiknya dijawab lebih dulu sebelum membeli. Apakah Anda menginginkan body yang tahan air? Apakah berat dan ukuran penting? Dan apakah Anda membutuhkan lensa tertentu? Karena tidak semua sistem kamera kompatibel dengan semua lensa dan juga add-ons khusus.

Berikut disajikan sejumlah informasi yang bisa membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas:

1. Ukuran Sensor

Ukuran sensor menjadi salah satu pertimbangan karena ia memiliki beberapa perbedaan. Semakin kecil ukuran sensor, maka ia akan menangkap area yang lebih kecil dari scene (crop factor). Ada 3 format sensor (dimulai dari yang terbesar), yakni Full Frame, APS-C dan Four-Thirds.

Format DSLR terbesar adalah full frame (dinamakan seperti itu karena ia memiliki ukuran yang sama dengan film 35mm). DSLR dengan sensor full frame memilii viewfinder terbesar. Sensor yang lebih besar juga akan menghasilkan hasil yang lebih baik dalam kondisi low light dan ISO tinggi. Akan tetapi di lain sisi, kamera full frame memiliki body yang besar dan mahal, seperti dikutip detikINET dari DPreview, Jumat (4/11/2011). Pun juga apabila memakai sensor full frame, maka ia akan kehilangan panjang foikal yang ditawarkan sensor yang lebih kecil saat memakai telephoto.

APS-C ialah format yang biasanya dipakai di Canon, Nikon, Pentax dan Sony DSLR. Dengan crop factor 1.5x atau 1.6x, pengguna membutuhkan lensa digital khusus untuk mendapatkan hasil wideangle yang sebenarnya. Sensor APS-C lebih murah dibandingkan dengan sensor full frame.

Four Thirds adalah format digital yang dikembangkan oleh Olympus dan kini dipakai di kamera Olympus dan Panasonic. Tidak seperti sistem lain yang ada di pasar, Four Thirds tidak berangkat dari sistem film SLR dan memakai lens mount (bantalan lensa) yang benar-benar baru.

Ini berarti ia bisa kompatibel dengan semua lensa dan kamera digital dari pabrikan yang berbeda asalkan sistemnya sama. Walaupun dengan sensor yang lebih kecil ia akan menghasilkan noise yang lebih banyak saat kondisi low light dan ISO tinggi, namun biasanya perbedaannya tidak terlalu kelihatan.

2. Sistem Anti Goyang (Anti shake)

Hal lain yang harus dipertimbangkan ketika memilih kamer DSLR adalah keberadaan sistem image stabilization (IS). Seperti diketahui, foto yang diambil dalam kondisi kurang cahaya atau diambil melalui lensa telephoto mudah sekali menjadi blur. Hal ini diakibatkan karena kamera yang tidak stabil alias goyang. Nah, IS ini diperlukan untuk mengatasi kendala tersebut, meniadakan goyangan kamera dan mengurangi blur.

Tiap pabrikan memiliki nama sendiri-sendiri untuk sistem ini. Ada yang memakai istilah Super SteadyShot, Anti Shake, Vibration Reduction atau Mega IOS.

3. Kecepatan (Speed)
Shutter Speed
Apakah Anda membutuhkan kecepatan kamera yang mumpuni? Biasanya speed dibutuhkan bagi mereka yang biasanya mengambil foto untuk sport dan wildlife. Model yang lebih mahal akan menawarkan kecepatan fokus yang lebih tinggi, begitu juga dengan jumlah frame yang diambil secara continuous.

Sebagian besar DSLR entry level menawarkan tingkat continuous shooting sekitar 2.5 atau 3 frame per second, cukup untuk mengambil gambar anak-anak atau binatang peliharaan yang sedang berlarian.

Akan tetapi jika kecepatan menjadi faktor penting bagi Anda, maka pertimbangkan untuk membeli ke model mid range atau semi-professional yang menawarkan tingkat frame mulai dari 5 fps.

4. Ukuran, berat dan daya tahan

Kamera digital SLR hadir dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jika Anda gemar membidik obyek dalam kondisi lembab atau berdebu, pikirkan untuk mencari DSLR dengan 'bungkus' waterproof dan sistem penghilang debu untuk menjaga sensor tetap bersih.

Kamera dengan daya tahan semacam ini memang agak lebih mahal namun banyak juga kamera model mid-range yang menawarkan beberapa level perlindungan dari elemen-elemen tersebut.

Mengenai ukuran dan berat kamera, pertimbangkan kamera yang ringkas jika Anda sering memakainya untuk bepergian dan tidak ingin terganggu dengan berat kamera. DSLR yang ringan menawarkan berat tidak lebih dari 0,5 kg dengan lensa kecil.

5. Layar dan Live View

Live View memungkinkan user untuk menilik frame foto dari layar di belakang kamera, sama seperti di kamera compact. Keberadaan live view membantu pengambilan gambar dari sudut-sudut yang sulit karena pengguna tak harus 'mengintip' melalui viewfinder meski di lain sisi ia memiliki kekurangan.


Live view mengakibatkan proses pengambilan lebih lambat. Hal ini disebabkan karena kaca yang ada di SLR harus diflip-up untuk memungkinkan live view dan diflip-back down kembali untuk mengambil fokus atau membidik obyek.
Namun di sini pabrikan Sony mengatasi hal tersebut dengan pemakaian sistem live view dual sensor, yang menjanjikan proses lebih cepat walaupun belum mampu menawarkan foto dengan resolusi tinggi di live viewnya.

6. Kemudahan Fitur & Kelengkapannya

Banyak SLR entry-level yang 'menyambut' pengguna yang baru berpindah dari kamera kompak. Untuk itu pabrikan kamera telah menyuguhkan kemudahan pemakaian fitur (on-screen guide, intelligent automatic modes, face detection) yang biasanya ada di kamera saku.

Meski banyak fitur di kamera compact yang sudah ada di kamera digital SLR, namun ia memiliki banyak fitur yang lebih mumpuni. Pertimbangkan kekayaan fitur yang dimiliki kamera dan sesuaikan dengan kebutuhan Anda.

7. Movie Mode

Bagi yang gemar merekam moment-moment penting dalam kehidupan, movie mode harus jadi pertimbangan. Sebagian besar SLR yang memungkinkan pengambilan video tidak mampu melakukan autofocus selama pembuatan video clip, akan tetapi mereka mampu membuahkan hasil yang bagus.


sumber : detikInet.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes